
Tambak, Banyumas — Suasana hangat dan penuh semangat menyelimuti Posyandu Anggun, Desa Watuagung, Kamis pagi (21/8), saat kegiatan Pembinaan Kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) digelar sebagai bagian dari Program Bangga Kencana.
Acara yang diinisiasi oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Banyumas ini menyoroti dua fondasi utama tumbuh kembang anak: pola asuh dan gizi.
Dalam sesi pembinaan, para peserta diajak memahami berbagai tipe pola asuh—dari otoritatif yang seimbang, hingga permisif dan abai yang berisiko. Pola asuh yang tepat, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, menekankan kasih sayang, keteladanan, dan komunikasi terbuka.
“Anak yang diasuh dengan cinta dan batasan yang jelas akan tumbuh lebih percaya diri dan sehat secara emosional,” ujar salah satu narasumber.
Tak kalah penting, pembahasan gizi balita menjadi sorotan utama. Masa emas 0–5 tahun disebut sebagai periode krusial di mana otak anak berkembang hingga 90%. Kekurangan gizi pada masa ini dapat menyebabkan stunting, anemia, bahkan gangguan kognitif permanen.
Para ibu balita yang hadir diberikan panduan praktis pemberian makan sesuai usia, mulai dari ASI eksklusif hingga makanan keluarga yang seimbang.
Menariknya, kegiatan ini juga menekankan hubungan erat antara pola asuh dan kebiasaan makan anak. Orang tua yang menerapkan pola asuh otoritatif cenderung lebih konsisten dalam menyediakan makanan bergizi dan membentuk kebiasaan makan sehat.
Acara ini dihadiri oleh TP PKK, kader BKB, serta ibu-ibu balita. Meski pejabat desa berhalangan hadir karena kegiatan RPJMDes dan RKPDes, semangat kolaborasi tetap terasa.
Ibu Siti Rohayati, kader BKB yang telah mendampingi ibu-ibu balita selama lebih dari sepuluh tahun, menyampaikan harapannya dengan penuh semangat:
“Kami ingin setiap ibu di desa ini merasa percaya diri dalam mengasuh anaknya. Lewat kegiatan seperti ini, mereka tidak hanya belajar, tapi juga saling menguatkan. Karena masa depan anak-anak kita dimulai dari rumah, dari pelukan ibu, dan dari piring makan mereka.”
“Merawat balita bukan hanya soal memberi makan, tapi juga memberi cinta, perhatian, dan bimbingan,” menjadi pesan penutup yang menggugah hati.
