Hari Pertama Pengabdian Masyarakat Stunting di Watuagung

Watuagung, 23 Agustus 2025 — Balai Desa Watuagung berubah menjadi pusat semangat dan harapan pagi itu. Kursi-kursi dipenuhi ibu-ibu dan anak-anak balita yang datang dengan antusias, menyambut hari pertama kegiatan Pengabdian Masyarakat (Pengmas) yang digagas oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Kegiatan ini bukan sekadar edukasi—ini adalah gerakan bersama untuk mencegah stunting dan membangun masa depan anak-anak desa.

Tepat pukul 10.00 WIB, kegiatan dimulai. Balai desa dipenuhi tawa anak-anak, diskusi hangat antar ibu, dan semangat para kader posyandu. Mahasiswa Unsoed, didampingi dosen dan kader, menyambut peserta dengan ramah dan penuh semangat.

“Ini baru hari pertama, tapi energinya luar biasa,” ujar salah satu kader sambil tersenyum.

Sebanyak 48 ibu dan anak balita hadir: 24 anak dengan status gizi stunting dan 24 anak dengan status gizi normal. Mereka berasal dari berbagai posyandu di Desa Watuagung, seperti Budi Lestari, Bakti Husada, Anggun, Putra Pamungkas, Suko Lestari, Mutiara Sehat, dan Sekar Mulia.

Hari pertama dirancang untuk membangun fondasi yang kuat:

  • Pengukuran berat dan tinggi badan anak-anak
  • Penyuluhan gizi dan tumbuh kembang oleh dosen Fakultas Kedokteran Unsoed
  • Wawancara dan pengambilan data oleh mahasiswa
  • Pengambilan sampel feses untuk analisis lanjutan (dengan penjelasan teknis dan persetujuan orang tua)

Dalam proses pengambilan data, tim juga melakukan skrining awal untuk memastikan validitas hasil. Balita yang sedang mengalami diare atau sedang mengonsumsi antibiotik tidak dapat dijadikan responden, karena kondisi tersebut dapat memengaruhi hasil analisis feses dan status kesehatan sementara anak. Informasi ini disampaikan dengan jelas kepada para orang tua, sebagai bagian dari edukasi dan transparansi kegiatan.

Menjelang siang, beberapa anak mulai tampak lelah dan rewel, sehingga wawancara belum bisa dilakukan sepenuhnya. Tim memutuskan untuk melanjutkan proses wawancara di hari kedua agar anak-anak tetap nyaman dan tidak dipaksakan. Sementara itu, pengumpulan sampel feses akan segera dilakukan sesuai prosedur yang telah disepakati bersama orang tua.

Semua kegiatan berlangsung lancar, dengan dukungan penuh dari kader posyandu dan perangkat desa. Kepala Desa Watuagung juga hadir sebagai bentuk komitmen terhadap kesehatan warganya.

Koordinasi dilakukan dengan cermat. Para kader bergerak cepat membagi undangan, menyusun daftar peserta, dan memastikan setiap posyandu terwakili. Meski sempat ada tantangan, komunikasi terbuka dan semangat gotong royong menjadi kunci keberhasilan.

“Kadang kader juga keder,” canda Bu Siti, salah satu penggerak kegiatan. “Tapi kalau sudah paham alurnya, semua jadi ringan.”

Hari pertama ini bukan hanya soal data dan pengukuran. Ini adalah awal dari gerakan bersama—antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah desa—untuk memastikan anak-anak Watuagung tumbuh sehat, cerdas, dan penuh potensi.

Kegiatan ini akan berlanjut, dengan harapan semakin banyak keluarga yang terlibat dan mendapatkan manfaat. Semangat literasi, edukasi, dan kolaborasi akan terus menyala di setiap langkah.

“Kami percaya, perubahan besar dimulai dari ruang kecil yang dipenuhi semangat,” ujar Glory Aprilia Kusumawardani, mahasiswa Unsoed yang memimpin kegiatan. (ajeng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *