Di tengah hijaunya pepohonan Desa Watuagung, Kecamatan Tambak, tradisi terus menjadi napas kebudayaan yang menyatukan warganya lintas generasi. Bulan Sura/Muharam bukan sekadar penanda pergantian waktu, melainkan momen sakral yang menguatkan jati diri desa lewat tiga ritual utama: bersih makam, potong kambing, dan doa bersama di situs Watu Lintang.
Saat kabut pagi belum sepenuhnya menghilang, warga berbondong-bondong membawa peralatan, berjalan menyusuri jalan setapak menuju makam di wilayah masing-masing. Tradisi bersih makam menjadi ajang silaturahmi, rasa syukur, dan wujud penghormatan pada leluhur.
“Ini bukan hanya soal kebersihan, tapi bagaimana kita menjaga hubungan antarsesama,” ujar seorang warga.
Di berbagai titik—lingkungan RT, RW, hingga sekitar Watu Lintang—tradisi penyembelihan kambing dilakukan serentak. Daging hasil sembelihan dimasak secara kolektif dan disantap bersama dalam kenduri hangat, lalu dibagikan ke warga sekitar. Bukan sekadar ritual, tapi simbol kebersamaan dan syukur yang mendalam.
Sebagai puncak rangkaian tradisi, warga berkumpul di situs sakral Watu Lintang. Di bawah naungan pohon rindang dan suasana hening, hadir tokoh adat, perangkat desa, sesepuh, tokoh agama, dan masyarakat sekitar dan tak ketinggalan Mahasiswa Unsoed yang sedang ber KKN untuk menggelar doa bersama.
Watu Lintang bukan hanya batu tua—ia adalah penanda spiritual, pemersatu jiwa warga desa watuagung.
Kehangatan tradisi juga dirasakan oleh mahasiswa KKN dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto. Mereka bukan hanya datang, tetapi ikut berproses: bersih makam, dokumentasi potong kambing, hingga berdoa bersama warga di Watu Lintang.
Kehadiran mereka menjadi bukti nyata kolaborasi lintas generasi dan dunia pendidikan. Gotong royong pun semakin kuat, nilai-nilai lokal terserap dan dihormati. Kehangatan sambutan warga menunjukkan bahwa tradisi bukan hanya untuk dilestarikan, tapi untuk dihidupkan—bersama-sama.


