Muslimat NU Watuagung Triwulan 34: Cinta Nabi, Semangat Ngaji

Watuagung, 24 Agustus 2025 — Mushola Nurul Ikhlas, Karang Joho RT 03 RW 08, menjadi saksi semaraknya Pengajian Triwulan ke-34 Muslimat NU Ranting Watuagung. Kegiatan yang digelar pada Minggu Pon ini menghadirkan suasana penuh kekhidmatan dan kebersamaan, dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat dan tokoh penting desa.

Tampak hadir dalam acara tersebut Kepala Desa Watuagung beserta perangkatnya, Ketua MWC NU Kecamatan Tambak, seluruh Banom NU Ranting Watuagung, tokoh agama, serta masyarakat umum yang memenuhi lokasi dengan antusias. Kehadiran lintas generasi dan lintas struktur NU ini menunjukkan kuatnya semangat ukhuwah dan komitmen terhadap dakwah yang membumi.

Acara dibuka dengan lantunan sholawat dari SorbanMus Ranting Watuagung yang menggugah hati, mengantar jamaah pada suasana batin yang tenang dan penuh harap. Tausiyah utama disampaikan oleh Ibu Nyai Siti Lumatun Nuzulul Asroriyah, S.Sos, pengasuh Ponpes Sabilussa’adah Bantar-Jatilawang-Banyumas, yang menyampaikan tiga pesan utama:

  • Cinta kepada Nabi Muhammad SAW bukan sekadar ucapan, tetapi harus tumbuh dari hati yang mengenal dan mengagumi akhlak beliau.
  • Meneladani perilaku Nabi dalam kehidupan sehari-hari adalah bentuk nyata dari cinta itu—dengan kelembutan, kejujuran, dan kasih sayang.
  • Semangat ngaji harus terus dijaga, karena dari majelis ilmu lahir generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.

Dalam sambutannya, Ketua Muslimat Ranting Watuagung, Ibu Saminah, menyampaikan pesan yang menginspirasi:

“Majelis ini adalah taman surga yang kita rawat bersama. Semoga setiap langkah menuju pengajian menjadi amal, dan setiap ilmu yang kita dapat menjadi cahaya bagi keluarga dan masyarakat. Mari kita jaga persatuan yang telah kokoh ini, agar tetap menjadi kekuatan dalam kebersamaan kita.”

Pengajian triwulan ini bukan hanya rutinitas, tetapi ruang spiritual yang menyegarkan jiwa dan memperkuat peran perempuan dalam membangun peradaban. Semangat kebersamaan yang terpancar dari acara ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai Islam dan budaya lokal terus hidup dan berkembang di Watuagung. (Nur-Muslimat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *