
Hari ke-19 s/d Hari ke-23: Semangat Gotong Royong Tak Pernah Padam
Di Desa Watuagung, Kecamatan Tambak, suara palu, gesekan besi, dan riuh obrolan para pekerja berpadu menjadi irama khas pembangunan. Sejak pagi hingga senja, suasana di lokasi proyek selalu hidup. Bukan hanya karena deru aktivitas, tetapi juga karena semangat kebersamaan yang terus menyala dari hari ke hari.
Hari ke-19: Energi yang Membara
Jumat, 19 Desember 2025. Udara pagi terasa segar, namun di lapangan, semangat kerja bahkan lebih segar lagi. Babinsa Sariyono datang dengan laporan kebutuhan material sederhana—paku, benang, kuas, dan oli. Sekilas tampak sepele, tetapi bagi para tukang, benda-benda kecil itu adalah nyawa pekerjaan. Danramil 12 Tambak hadir memberi arahan lantang: “Utamakan kelancaran, jangan sampai ada jeda!” Seruan itu bagai alarm semangat. Semua pekerja hadir lengkap, dari kepala tukang hingga kernet, saling bahu-membahu. Meski besi belum sepenuhnya tersedia, koordinasi dengan penyedia material terus dilakukan. Tidak ada keluhan, hanya tekad untuk maju.
Hari ke-20: Hujan yang Menguji
Sabtu, 20 Desember. Sejak pagi, wajah para pekerja sumringah menyambut kedatangan besi ukuran 13 sebanyak 84 batang, lengkap dengan bendrat dan gegep. Material baru ini ibarat suntikan energi bagi kelanjutan pekerjaan. Namun, tepat pukul 14.27, langit mendadak gelap. Hujan deras mengguyur, memaksa aktivitas berhenti sejenak. Air mengalir deras di tanah, udara dingin menusuk. Tapi begitu hujan reda, para pekerja kembali ke posisi masing-masing. Seolah hujan hanyalah jeda singkat, bukan penghalang. Dedikasi mereka terlihat jelas: tidak ada cuaca yang bisa memadamkan semangat.
Hari ke-22: Gas Pol di Tengah Keterbatasan
Senin, 22 Desember. Pagi itu, Babinsa Sariyono melaporkan kebutuhan mendesak: besi foot plat untuk memperkuat fondasi. Danramil 12 Tambak langsung memberi motivasi lantang: “Jangan kasih kendor, Gas Pol!” Kata-kata itu menggema di lapangan, membakar semangat semua yang hadir. Pembuatan begel dan kolom praktis terus berjalan, meski material terbatas. Semua pekerja hadir lengkap, tidak ada yang absen. Kendala cakar ayam yang belum tersedia diatasi dengan komunikasi intensif bersama workshop. Di balik keringat dan debu, terlihat jelas bahwa gotong royong adalah roh utama pembangunan ini.
Hari ke-23: Momentum Penting
Selasa, 23 Desember. Hari ini menjadi titik balik. Material tambahan yang dinanti akhirnya tiba: cakar ayam, besi ukuran 90, dan besi ukuran 70. Kehadiran material ini memberi dorongan besar bagi pengerjaan fondasi dan struktur utama. Babinsa Sariyono sigap mengajukan permintaan tambahan bendrat, kaso, dan triplek untuk mendukung pengerjaan kolom utama. Daftar pekerja kembali lengkap, semua hadir dengan disiplin. Meski masih ada kekurangan pada besi ukuran 70, koordinasi cepat dilakukan dengan penyedia material agar besok kebutuhan bisa terpenuhi. Tidak ada waktu terbuang, tidak ada semangat yang surut.
Empat hari perjalanan ini memperlihatkan wajah asli pembangunan di Desa Watuagung: kerja keras, kebersamaan, dan tekad pantang menyerah. Kendala material, cuaca, bahkan keterbatasan tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti. Justru, setiap tantangan dihadapi dengan solusi dan semangat gotong royong.
Pembangunan ini bukan sekadar berdirinya bangunan fisik, tetapi juga simbol kebersamaan warga desa. Di balik setiap palu yang diketuk, setiap besi yang dipasang, ada cerita tentang solidaritas dan harapan. Semangat itu yang membuat pembangunan terus bergerak maju, selangkah demi selangkah menuju keberhasilan.
Selengkapnya tonton di sini –> https://youtu.be/UZWobWIEaTI