Watuagung, Tambak (31-07-2025) — Langit cerah Desa Watuagung menjadi saksi hadirnya PT Telkom Indonesia dalam kunjungan penuh makna ke Dusun 1. Di titik ini, bantuan perpipaan air bersih menjadi pertemuan hangat antara kebutuhan warga dan kepedulian korporat melalui program CSR yang telah dirancang sejak tahun 2024.
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Waka BPD (Suwaryo), Kadus 1 (Nuryadi), Ketua RT 02/03 (Ribut C), Ketua RT 03/03 (Udin), dan Babinkamtibmas (Yarham). Kehadiran mereka memperkuat makna kolaborasi dan rasa terima kasih kepada Telkom yang telah memilih Watuagung sebagai salah satu desa prioritas.

Sejak awal, suasana hangat dan penuh harapan begitu terasa. Di tengah aliran pipa yang belum sepenuhnya tersambung ke rumah-rumah warga, semangat gotong royong menguat, memberi gambaran nyata tentang pembangunan partisipatif. Telkom mengakui bahwa bantuan ini masih dalam tahap awal realisasi, namun Desa Watuagung sudah masuk dalam 40 paket prioritas nasional yang telah difinalkan.
“Kami mohon maaf karena distribusi belum maksimal. Namun kami berharap bantuan ini menjadi pondasi perubahan. Kehadiran kami bukan hanya menyampaikan CSR, tetapi juga menyampaikan niat baik dan kolaborasi,” ujar salah satu perwakilan Telkom.
Direktur Utama Telkom, Bapak Yogi, turut hadir dalam kunjungan tersebut. Beliau sempat mengungkapkan bahwa Telkom sebenarnya berencana mengajak Pak Sekda, namun karena adanya agenda lain yang tak bisa ditinggalkan, Pak Sekda tidak dapat hadir.
“Telkom bukan perusahaan swasta, tapi milik negara. Keuntungan yang kami peroleh disalurkan kembali ke masyarakat lewat program seperti ini. Jadi setiap meter pipa yang terpasang, setiap peluh yang menetes dalam kerja bakti, adalah bagian dari upaya membangun Indonesia dari desa,” tambah tim Telkom.
Sebelum mengakhiri kunjungan, tim Telkom menitipkan salam kepada seluruh tokoh masyarakat—termasuk Pakdes, Bu Camat, dan seluruh warga—sebagai apresiasi atas sambutan hangat dan semangat gotong royong yang luar biasa.
Bagi warga Watuagung, bantuan ini bukan semata infrastruktur—tetapi simbol harapan. Pipa-pipa itu membawa lebih dari sekadar air; mereka membawa mimpi tentang masa depan yang lebih sehat, bersih, dan berdaya. (Suwaryo BDP)