Tradisi Likuran di Desa Watuagung

Watuagung, 21 Ramadhan – Malam ke-21 Ramadhan di Desa Watuagung kembali diwarnai dengan tradisi likuran, sebuah kegiatan syukuran yang telah turun-temurun dilestarikan warga. Tradisi ini bukan sekadar makan bersama, melainkan simbol kebersamaan, rasa syukur, dan harapan akan datangnya malam Lailatul Qadar yang penuh keberkahan.

Selepas shalat tarawih, warga berkumpul di mushola atau rumah warga yang sudah ditentukan bersama untuk menggelar kepungan. Hidangan khas berupa ambeng dengan gorengan, serundeng, sayur, tempe, ayam goreng, hingga telur goreng tersaji sebagai wujud syukur atas rezeki yang diterima. Suasana hangat tercipta ketika jamaah duduk melingkar, berbagi makanan, dan saling mendoakan.

Bagi masyarakat Watuagung, likuran menjadi tanda bahwa bulan Ramadhan hampir usai. Lebih dari itu, kegiatan ini mempererat tali silaturahim, memperkuat persatuan, dan menumbuhkan rasa kerukunan antarwarga. “Alhamdulillah, tradisi ini masih lestari sampai sekarang. Semoga membawa berkah dan mempererat kebersamaan,” ungkap salah satu warga dengan penuh syukur.

Tradisi likuran juga menjadi pengingat akan sepuluh malam terakhir Ramadhan, di mana umat Islam berharap dapat menjumpai malam Lailatul Qadar. Malam penuh keberkahan yang lebih baik dari seribu bulan ini diyakini sebagai momen kemenangan menuju Idul Fitri.

Dengan semangat kebersamaan, warga Desa Watuagung berharap tradisi likuran terus dijaga sebagai warisan budaya sekaligus sarana memperkuat solidaritas sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *